Gimana rasanya kuliah musik di Universitas Pelita Harapan (UPH)?

Yes, aku memang lagi rebranding sebagai fotografer, tapi latar belakang pendidikan aku sarjana seni jurusan musik. Aku masuk UPH tahun 2019 dengan penjurusan Sound Design and Music Production dan instrumen piano klasik.

Sebagai anak musik, aku sering banget ditanyain tentang perkuliahan aku. Biasanya sama driver Gocar kalau bukan keluarga. Aku akan jawab semua pertanyaan itu di post ini, dan mengakhiri dengan tips bagaimana bisa survive kalau mau kuliah musik.

Karena post ini ditujukan ke anak Indonesia yang mau kuliah musik di Indonesia dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia, kali ini aku bahas dalam bahasa Indonesia.

Kita mulai dengan beberapa hal yang sering ditanyakan tentang Conservatory of Music UPH!

Apa benar UPH mahal?

Bisa dibilang begitu. Bahkan, musik itu jurusan termahal kedua di UPH setelah kedokteran. Kalau tidak salah aku dulu sampai lulus 250 juta lebih. Mungkin sekarang beda ya, karena harga pendidikan naik terus, hehe. 

BTW itu baru tuition feenya. Belum perintilan yang kamu harus beli buat (contohnya) kelas sound design, resital, atau urusan magang. Itu semua harus ditanggung sendiri. 

Apa benar UPH itu the best music school in Indonesia?

Aku tidak pernah kuliah di jurusan musik di kampus lain, tapi aku bisa bilang secara network staf dan alumni UPH sudah top banget. Di berbagai industri juga seperti film, konser/festival, recording, bahkan sosmed (founder Indomusikgram alumni UPH loh!). Pokoknya nggak main-main, banyak yang sudah berkontribusi di industri seni Indonesia dan mancanegara secara signifikan.

Contohnya? Ada kating aku (angkatan 2018) yang ikut ngurus sound Coldplay di Singapura:

Tapi secara fasilitas banyak yang harus diimprove. Banyak yang outdated, rusak, atau harus dipinjam, contohnya kontrabas – padahal ada kelas kontrabas!

Student bodynya UPH juga tidak begitu variatif di jenis instrumennya TBH. Tipikal anak kota Indonesia instrumennya, mau itu piano, biola, vokal, instrumen band, itu-itu saja. Kalau soal ini, ISI juara sih. Tapi, anak UPH memang didorong untuk mengambil instrumen kedua (minor). Aku dulu mengambil perkusi, karena kebetulan dulu les perkusi.

Kurikulumnya seperti apa?

Aku tidak bisa cerita banyak karena aku angkatan terakhir yang pakai kurikulum lama.

Tapi basically, kita terbagi ke beberapa penjurusan yang kalian bisa pilih:
1. Performance
2. Komposisi
3. Sound Design
4. Performing Arts and Production Management
5. Edukasi musik
6. Terapi musik

Ada juga penjurusan sesuai instrumen yang ngaruh ke kelas teori, sejarah, solfege, dan praktek, yaitu klasik dan kontemporer.

Yang aku tahu, untuk kurikulum sekarang, tahun pertama langsung penjurusan dan kelas liberal arts*, baru tahun kedua ada kelas fundamental musik seperti sejarah, teori, solfege, dan praktek (les musik). BTW, mungkin yang background klasik bakal agak ngantuk di tahun pertama kelas fundamental, karena didesain agar semua mahasiswa berada di level yang sama. Di kelas-kelas awal beneran diajarin cara membaca not balok.

Penjurusan jalan terus sampai akhir. Nah, di akhir perkuliahan mulai ada final project tergantung penjurusan. Biasanya kalau performance atau komposisi disuruh bikin resital, kalau penjurusan yang lain ada magang.

Kalau kurikulum yang lama, semua mahasiswa wajib resital dan skripsi. Jadi meskipun aku jurusan sound design, harus tetap resital ala anak performance. Jadi deh foto yang jadi featured image post ini.

* kelas liberal arts mencakup mata kuliah yang wajib diadakan di perguruan tinggi di Indonesia, seperti Pancasila, agama, dan Bahasa Indonesia. Liberal arts juga termasuk interdisciplinary skills seperti entrepreneurship, yang sayangnya tidak ada di kurikulum lama.

Kuliah musik susah nggak?

Ini tergantung background kamu. Kalau kamu orangnya lebih condong ke klasik atau di sekolah belajar musik secara intensif (misalnya ambil matpel musik di kurikulum IB/Cambridge atau mengikuti pembelajaran intensif seperti YPM), tahun-tahun awal akan terkesan cenderung mudah, apalagi kalau solfegenya jago.

Bagi kalian yang belajar musik secara otodidak, kalian mungkin perlu extra effort untuk catch up! Tapi tidak menutup kemungkinan kok untuk “jadi jago” saat lulus, karena banyak teman aku yang otodidak (bahkan di piano klasik!)

Alumni ke mana setelah lulus?

Biasanya kerja sesuai jurusan, karena yang masuk musik dominan yang memang passionate banget. Banyak yang jadi artis/musisi, kalo penjurusan sound design kerja di studio. Ada yang bahkan bikin company sendiri, entah itu studio atau production house. Kalau jurusan performance, tidak sedikit yang menjadi guru atau keluar negeri untuk studi lanjut.

Aku sendiri jadi freelancer sekaligus menunggu hasil beasiswa S2. Kadang diminta main, kadang diminta ngajar, kadang diminta bikin musik buat game. Jadi ilmu sound design masih dipakai.

Kalaupun ada yang tidak passionate amat dengan musik biasanya cukup mudah mencari kerja di bidang lain yang diminati asal aktif networking dan berkegiatan di masa perkuliahan.

Ada hal lain yang ingin diceritakan?

Jujur, terkadang konten di internet itu agak misleading. Jadi aku mau meluruskan beberapa hal:

  1. Kadang ada foto ensemble besar seperti orkestra dan brass band. IRL proyeknya lumayan mangkrak karena lagi-lagi instrumen mahasiswa UPH itu-itu saja, kurang bervariasi. At one point kelas orkes hanya 6 orang, dan sudah menggabungkan mahasiswa aktif semua angkatan. Tetap ada acara orkes, biasanya untuk Natal, tapi biasanya fakultas panggil orang luar juga. Di antara ensemble besar yang ada, choir yang paling jalan karena terus melakukan regenerasi, dan bagi banyak mahasiswa wajib dilakukan sebagai mata kuliah.
  2. Kadang juga ada informasi tentang stage production seperti musikal. Memang ada tapi jarang banget. Terakhir itu yang opera setelah aku lulus, dan sebelumnya musikal sebelum aku masuk. Jadi jangan berharap banyak kalau mau ikut production di kampus. Mending ikut organisasi luar kampus.
Opera yang diadakan Februari 2024 lalu.

Was it worth it?

Ini pertanyaan yang sangat subjektif ya. Dari pengalamanku sendiri, sangat worth it, meskipun dengan cara yang tidak disengaja. Selain menambah koneksi dengan musisi top di Indonesia terutama musisi klasik, aku dapat banyak pengalaman main bahkan sampai level nasional (seperti Pekan Komponis Indonesia, dan dulu sempat collab bareng orkestra kampus lain).

Tapi sekarang lumayan susah cari kerja yang memiliki fixed income kecuali ngajar di sekolah musik, karena banyak lowongan di Indonesia yang meminta latar pendidikan tertentu. Kalau mau jadi freelancer harus setengah mati cari klien. Itu yang aku rasakan saat mau buat musik untuk game. Untungnya, ada perusahaan yang nyantol, dan sekarang aku lagi mengerjakan projek kelima mereka.

Dulu sebenarnya sempat dioffer untuk kerja sebagai mixing engineer di film, tapi aku tolak karena kondisi kerja yang menurutku kurang favorable dan gaji yang tidak cukup untuk kompensasi apa yang harus aku korbankan.

Mungkin untuk sebagian mahasiswa lainnya, kuliah musik kurang worth it dan mendapatkan kerja di bidang lain. It’s okay, mungkin memang takdir mereka.

Untuk mengakhiri, tips kalau mau kuliah musik:

  1. Aktif. Kalau bukan di musiknya, di manalah. Manfaatkan organisasi, kepanitiaan, dan UKM. Toh sekarang sudah didukung dengan sistem engagement point (poin yang harus dikumpulkan sebelum lulus dengan berpartisipasi di webinar, acara, kepanitiaan dll, dan ada minimumnya). Tentunya, boleh juga berkontribusi di luar kampus. Asalkan ada bukti, ini juga bisa dikonversi ke engagement point. Selain skill, ini juga membantu membangun relasi biar mudah dapat kerja saat lulus.
  2. Ambil beasiswa (internal) kalau bisa. Ada sistem SOW (student on work) di mana mahasiswa “membayar hutang” beasiswa dengan jam kerja di kampus. Durasinya tergantung potongan beasiswa. Tipe kerjanya pun bervariasi, tapi yang paling sering itu membantu administrasi atau bantu-bantu di acara CoM. Kalau buat acara, fakultas biasanya utamain anak SOW karena mereka perlu jam pengalamannya. Lama-lama bisa jadi reguleran ngurus acara (banyak yang nyantol jadi front desk, MC, soundman, atau dokumentasi) dan ini bisa dimasukkan di CV kalau mau cari kerja. BTW, aku bukan anak beasiswa (belagu sih mau bayar sendiri) tapi dulu saking aktifnya dikira anak beasiswa. Itu hoki aja sih, memang aku sudah punya nama karena aku punya skill yang sepertinya jarang, yaitu mudah berkolaborasi dan belajar lagu baru dengan cepat.
  3. Belajar sebanyak-banyaknya sebelum kuliah karena kalau belum pernah belajar musik secara intensif sebelum kuliah, 99.9% chance akan kagok. Pelajari skill aural/solfege, teori, dan sejarah musik (dari zaman batu wkwk).

Buat kalian yang mau kuliah musik, mumpung masih ada waktu buat daftar, coba pikir lagi apa yang aku cerita tadi. Semoga bermanfaat, dan kalau ada pertanyaan bisa langsung komen ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *